Gelar Adalah
Sebuah Tanggung Jawab
Sekarang
ini betapa banyaknya orang yang tergila- gila dengan sebuah gelar. Bahkan ada
yang mendapatkannya dengan jalan “ membeli “ ke lembaga – lembaga iegal. Cara
yang dmikian salah bukan? Ironisnya lagi mereka mempergunakan itu untuk menipu
amasyarakat pemilih dalam ajang di sebiah pemilihan umum.
Banyak
juga yang mendapatkannya dengan jalur resmi, namun pura – pura tidak tahu atu
tidak tahu bahwa ggelar yang melekat pada nama yang bersangkutan bukanlah
sebuah beban yang ringan. Kewajiban untuk mencerminkan citra diri sesuai dengan gelar yang melekat adalah sebuah
konsekuensi yang tak bisa di tawar – tawar gelar kyai misalnya, haruslah
mencerminkan sosok pribadi yang saleh, menjadi penawar kegelisahan batin masyarakat,
figure panutan siapapun yang mengenalnya, semua sepak terjangnya, bicaranya
menjadi pusat perhatian. Ia tak sebebas orang lain dalam bertingkah laku.
Mengutip
dala sebuah buku “ orang akan lebih menghargai mantan preman dibandingkan
mantan ustad. Begitu pula dengan gelar akademik
Prof, DR, atau Sarjana ini dan itu, adalah amanah yang harus di
jalankan. Akan sangat janggal apabila seseorang dengan sederet gelar
akademiknya, punya pikiran tak lebih dari oran yang tamatan SMA. Daya nalarnya
tak lebih tinggi dari batang toge.
Hal itu bisa kita lihat dari prilaku mereka
dalam demonstrasi .yang menghendaki seseorang pemimpin yang mundur dari
jabatannya karena ia tidak becus dengan menjalankan amanah. Namun siapapun itu,
apapun yang mereka perbuat, tidaklah pada tempatnya kita meggeneralisasikan
sebuah persoalan.masih banyak di disekitar kita mereka yang tampil intelek da berkarisma sesuai dengan gelar
yang disandangnya.
Banyak
jendral yang dihormati anak buahnya
kearena mampu tampil sebagai pemimpin yang bertanggung jawab. Tak
sedikit pula Profesor yang melahirkan penelitian yang bermamfaat bagi
kmashlahatan umat. Juga masih banyak kita temui seorang kyai atau ustad dan
ulama yang menjadi suluh daalm kegulitaan.